Bandar Lampung - Museum Negeri Provinsi Lampung menerima penyerahan barang peninggalan milik KH. Ahmad Hanafiah, Selasa (26/8/2025). Penyerahan secara resmi diterima oleh Bapak I Made Giri Gunadi, S.S., M.Si. selaku Pamong Budaya Ahli Madya Museum Negeri Provinsi Lampung. KH. Ahmad Hanafiah merupakan ulama kharismatik sekaligus pejuang kemerdekaan asal Sukadana, Lampung Timur. Penyerahan ini menjadi upaya pelestarian sejarah perjuangan daerah serta penghormatan atas jasa-jasa KH. Ahmad Hanafiah dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
KH. Ahmad Hanafiah, yang lahir di Sukadana pada tahun 1905, dikenal bukan hanya sebagai ulama kharismatik, tetapi juga komandan Laskar Hizbullah Lampung yang terjun langsung ke medan perang melawan Agresi Militer Belanda I. Beliau gugur pada 16 Agustus 1947 dalam pertempuran sengit di Baturaja, Sumatera Selatan. Kisah heroiknya yang tak pernah lekang oleh waktu kini diabadikan melalui peninggalan yang akan menjadi saksi bisu perjuangan seorang putra Lampung.
Barang-barang yang diserahkan kepada museum antara lain kitab karya KH. Ahmad Hanafiah, naskah-naskah dakwah, serta benda pribadi yang pernah beliau gunakan semasa hidup. Setiap benda menyimpan kisah tersendiri tentang perjuangan dan keteguhan seorang ulama dalam menegakkan nilai-nilai agama sekaligus membela tanah air.
“Peninggalan ini bukan hanya milik keluarga, tetapi milik seluruh masyarakat Lampung bahkan bangsa Indonesia. Kami berharap museum dapat merawat dan menampilkan warisan ini agar generasi mendatang dapat mengambil pelajaran dari perjuangan beliau,” ujar salah satu cucu KH. Ahmad Hanafiah dalam acara penyerahan.
KH. Ahmad Hanafiah dikenal sebagai pemimpin Laskar Hizbullah Lampung yang ikut berjuang melawan Agresi Militer Belanda I. Ia gugur di Baturaja pada 16 Agustus 1947 setelah memimpin sekitar 400 laskar dalam pertempuran sengit melawan tentara Belanda. Riwayat perjuangannya sarat dengan nilai keulamaan dan kepahlawanan, menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah Lampung.
Kini, melalui barang-barang peninggalannya yang tersimpan rapi di museum, generasi muda diharapkan dapat merasakan denyut semangat juang yang pernah berkobar di dada para pejuang. “Beliau tidak memiliki makam karena jasadnya tidak ditemukan. Maka museum ini bisa menjadi ‘makam ingatan’ tempat kita semua mengenang perjuangan beliau,” ujar Bapak I Made Giri Gunadi, S. S., M. Si.
Penyerahan barang peninggalan KH. Ahmad Hanafiah ke Museum Negeri Provinsi Lampung menegaskan pentingnya menjaga warisan sejarah. Lebih dari sekadar benda koleksi, peninggalan tersebut adalah pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun dari darah dan pengorbanan.
Di balik kaca pameran museum, kitab, naskah, dan benda pribadi KH. Ahmad Hanafiah akan terus berbicara. Mereka akan menyampaikan pesan yang sama kepada setiap mata yang memandang: bahwa semangat juang, ilmu, dan pengabdian tidak pernah lekang dimakan waktu.
